GENDER ITU…

Gender…

Apa yang pertama kali melintas dalam pikiranmu ketika kamu mendengar kata itu?

Yap, simpan dulu ya pendapatnya sekarang yuk mari kita cari tahu jawabannya..

Gender itu seks? Seks itu gender?

Sampai sekarang masih banyak sekali masyarakat yang memaknai gender sebagai jenis kelamin yang membedakan antara perempuan dan laki-laki. Atau mungkin kamu juga termasuk yang berpikiran seperti itu??

Sebenarnya gender memang dapat memiliki makna sebagai jenis kelamin, namun secara sosial bukan jenis kelamin secara anatomi. Jenis kelamin secara anatomi (seks) adalah jenis kelamin yang membedakan antara perempuan dan laki-laki secara biologis, jenis kelamin ini dibawa sejak lahir, sifatnya universal, sama dari waktu ke waktu, dan tak dapat diubah, dalam artian peran perempuan dalam hal mengandung, melahirkan, menyusui, dan menghasilkan sel telur tidak dapat dipertukarkan dengan seorang laki-laki.

Pengertian ini jelaslah berbeda dengan arti gender yang sesungguhnya. Gender merupakan suatu konsep yang mengacu pada peran-peran dan tanggung jawab kamu sebagai laki-laki dan perempuan  sebagai hasil konstruksi sosial yang dapat berubah pada situasi masyarakat tertentu. Misalnya, peran gender antara perempuan dan laki-laki di daerah satu berbeda dengan daerah lainnya. Karena gender dapat memiliki bentuk berbeda sesuai dengan budaya yang dianut.

Gender itu merupakan ide dan harapan dalam arti luas yang bisa ditukarkan antara laki-laki dan perempuan. Ide tentang karakter feminim dan maskulin, kemampuan dan harapan tentang bagaimana seharusya laki-laki dan perempuan berperilaku dalam berbagai situasi. Ide-ide ini disosialisasikan lewat perantara keluarga, teman, agama dan media. Lewat perantara-perantara ini, gender terefleksikan ke dalam peran-peran, status sosial, kekuasaan politik dan ekonomi antara laki-laki dan perempuan. (Bruynde, Jackson, Wijermans, Knought & Berkven, 1997 : 7).

Gender itu… sudah jadi kodrat bagi perempuan dan laki-laki ya?

Jelas saja bukan teman-teman. Gender itu bukan kodrat. Yang dimaksud kodrat adalah keistimewaan yang diberikan sejak lahir kepada perempuan dan laki-laki dan tidak dapat dipertukarkan satu sama lain. Kodrat seperti halnya seks atau jenis kelamin yang membedakan perempuan dan laki-laki. Laki-laki punya penis, sementara perempuan punya vagina, laki-laki mengalami mimpi basah, sementara perempuan mengalami menstruasi. Kalo gender itu beda, sifatnya bisa dipertukarkan. Contohnya dalam hal berbagi peran rumah tangga seperti mencuci, memasak, dan mengurus anak, peran-peran tersebut merupakan bentukkan masyarakat yang dapat dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini karena baik laki-laki maupun perempuan pada kenyataanya bisa melakukan peran dalam rumah tangga tersebut.

Tapi bagaimana kenyataannya di masyarakat? Sebagian besar masih beranggapan itu adalah peranan yang harus dipikul oleh perempuan saja. Bagaimana menurutmu? Nggak setuju dong yah…

Gender itu… tidak adil?

Perbedaan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan atau yang lebih tinggi dikenal dengan perbedaan gender yang terjadi di masyarakat tidak menjadi suatu permasalahan sepanjang perbedaan tersebut tidak mengakibatkan diskriminasi atau ketidakadilan. Patokan  atau ukuran sederhana yang dapat digunakan untuk mengukur apakah perbedaan gender itu menimbulkan ketidakadilan atau tidak dapat kamu simak pada beberapa bentuk ketidakadilan gender berikut ini :

1. Stereotype
Semua bentuk ketidakadilan gender sebenarnya berpangkal pada satu sumber kekeliruan yang sama, yaitu stereotype gender laki-laki dan perempuan. Stereotype itu sendiri berarti pemberian citra baku atau label/cap kepada seseorang atau kelompok yang didasarkan pada suatu anggapan yang salah atau sesat. Pelabelan umumnya dilakukan dalam dua hubungan atau lebih dan seringkali digunakan sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan dari satu kelompok atas kelompok lainnya. Pelabelan juga menunjukkan adanya relasi kekuasaan yang timpang atau tidak seimbang  yang bertujuan untuk menaklukkan atau menguasai pihak lain. Pelabelan negative juga dapat dilakukan atas dasar anggapan gender. Namun seringkali pelabelan negative ditimpakan kepada perempuan.

Contohnya, perempuan dianggap cengeng, suka digoda, rasional, emosional, tidak bisa mengambil keputusan penting, dan perempuan dianggap sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah tambahan sementara laki-laki adalah pencari nafkah utama.

2.Kekerasan
Kekerasan (violence) artinya tindak kekerasan, baik fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga, masyarakat atau negara terhadap jenis kelamin lainnya. Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki. Perempuan dianggap feminism dan laki-laki maskulin. Karakter ini kemudian mewujud dalam ciri-ciri psikologis, seperti laki-laki dianggap gagah, kuat, berani dan sebagainya. Sebaliknya perempuan dianggap lembut, lemah, penurut dan sebagainya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pembedaan itu. Namun ternyata pembedaan karakter tersebut melahirkan tindakan kekerasan, dengan anggapan bahwa perempuan itu lemah, itu diartikan sebagai alasan untuk diperlakukan semena-mena, berupa tindakan kekerasan.

Contohnya, kekerasan fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh suami terhadap isterinya di dalam rumah tangga, pemukulan, penyiksaan dan perkosaan yang mengakibatkan perasaan tersiksa dan tertekan, pelecehan seksual, eksploitasi seks terhadap perempuan dan pornografi.

3.Beban ganda (double burden)
Beban ganda (double burden) artinya beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan permanen. Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja diwilayah publik, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka di wilayah domestik. Upaya maksimal yang dilakukan mereka adalah mensubstitusikan pekerjaan tersebut kepada perempuan lain, seperti pembantu rumah tangga atau anggota keluarga perempuan lainnya. Namun demikian, tanggung jawabnya masih tetap berada di pundak perempuan. Akibatnya mereka mengalami beban yang berlipat ganda.

4. Marjinalisasi
Marjinalisasi artinya suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan. Banyak cara yang dapat digunakan untuk memarjinalkan seseorang atau kelompok. Salah satunya adalah dengan menggunakan asumsi gender. Misalnya dengan anggapan perempuan bekerja hanyalah untuk dirinya sendiri atau sebagai nafkah tambahan menyebabkan banyak perempuan hanya mendapatkan pekerjaan yang tidak terlalu strategis, baik dari segi gaji, jaminan kerja ataupun status dari pekerjaan yang didapatkan. Juga, karena perempuan dianggap tidak punya kemampuan analitis maka perempuan hanya diserahi pekerjaan yang bersifat teknis dan rutin.

5. Subordinasi
Subordinasi artinya suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain. Nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, telah memisahkan dan memilah-milah peran-peran gender, laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap bertanggung jawab dan memiliki peran dalam urusan domestik atau reproduksi, sementara laki-laki dalam urusan publik atau produksi. Pertanyaannya adalah, apakah peran dan fungsi dalam urusan domestik dan reproduksi mendapat penghargaan yang sama dengan peran publik dan produksi? Jika jawabannya “tidak sama”, maka itu berarti peran dan fungsi publik laki-laki. Sepanjang penghargaan sosial terhadap peran domestik dan reproduksi berbeda dengan peran publik dan reproduksi, sepanjang itu pula ketidakadilan masih berlangsung.

Contohnya, masih sedikitnya jumlah perempuan yang bekerja pada posisi atau peran pengambil keputusan atau penentu kebijakan dibanding laki-laki. Dalam pengupahan, perempuan yang menikah dianggap sebagai lajang, karena mendapat nafkah dari suami dan terkadang terkena potongan pajak, masih sedikitnya jumlah keterwakilan perempuan dalam dunia politik (anggota legislatif dan eksekutif ). Di sebuah rumah tangga masih sering kita dengar jika keuangan mereka sangat terbatas, dan harus mengambil keputusan untuk menyekolahkan anak-anak mereka, maka anak laki-laki akan mendapatkan kesempatan pertama dibandingkan anak perempuan.

Gender itu… berwarna seirama

Gender itu sesungguhnya merupakan suatu hal yang indah kalo kamu bisa memaknainya dengan benar. Gender tak akan menjadi masalah selama kita bisa menempatkan posisi dengan sesuai tanpa mengesampingkan ataupun  memberatkan salah satu pihak, hal itu bisa ditempuh dengan melakukan diskusi, pembagian peran secara adil, meningkatkan partisipasi satu sama lain antara laki-laki dan perempuan sehingga tidak ada yang terlihat lebih rendah atau lebih tinggi, dan yang yang pasti tetap saling menghormati.

Kesetaraan gender bukan berarti laki-laki harus mengerjakan semua pekerjaan perempuan ataupun sebaliknya, melainkan dibuat berimbang. Karena itu mulai dari sekarang jadilah agen perubahan sehingga bagimu nanti gender tak akan menjadi masalah lagi dengan mewujudkan gender yang setara.

Referensi:
http://www.menegpp.go.id/aplikasidata/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=52&Itemid=117
http://fsindonesia.wordpress.com/2012/02/06/keberagaman-gender-itu-unik-dan-indah/
http://www.kesrepro.info/?q=node/559

Ilustrasi:
http://1.bp.blogspot.com/-UdR70gMwm58/TyWf6isbxXI/AAAAAAAAAco/8awd0cnZMbk/s320/gender-identity.png
http://www.oecd.org/dataoecd/33/35/46623144.jpg

Pin It

Leave a Reply