Wah, Tingkat “Jomblo” Remaja di Kota Denpasar ternyata Rendah!

pacaran

United Nations Population Fund (UNFPA) memperkirakan bahwa jumlah remaja di seluruh dunia pada tahun 2014 mencapai 1,8 milyar dan diperkirakan 90% diantaranya hidup di negara berkembang (UNFPA, 2014). Indonesia sebagai negara berkembang memiliki proporsi populasi remaja sekitar 26,67% dari 237,6 juta jiwa penduduk Indonesia pada tahun 2010 (BKKBN, 2011). Apabila berbicara mengenai remaja, pastinya melekat didalam benak bahwa remaja merupakan masa dimana seseorang sedang memiliki emosional yang tidak stabil, pengaruh teman sebaya yang sangat kuat, dan mulainya ketertarikan terhadap orang lain termasuk lawan jenis. Tak dapat dipungkiri juga bahwa masa paling indah dari remaja yaitu saat sudah mulai tertarik dengan lawan jenis dan mulai menjalin hubungan pacaran.

Usia awal mulai mengenal pacaran bagi sebagian besar orang yaitu pada masa remaja. Remaja merupakan masa dimana seseorang mengalami perubahan fisik, psikis dan termasuk juga perubahan seksual. Seiring dengan semakin cepat perkembangan seksualnya, maka ketertarikan terhadap lawan jenis pun semakin meningkat. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2012 menunjukkan bahwa 33.3% remaja perempuan dan 34.5% remaja laki – laki berusia 15 – 19 tahun mulai berpacaran saat mereka belum berusia 15 tahun. Berdasarkan survei kesehatan reproduksi yang dilaksanakan oleh BKKBN, usia awal mulai pacaran kini semakin muda yaitu 12 tahun. Hal itu menunjukkan bahwa remaja yang duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) sudah mulai mengenal dan menjalani hubungan pacaran. Lalu, bagaimana dengan remaja di Kota Denpasar?

Berdasarkan penelitian cross sectional analitik yang dilakukan oleh KISARA PKBI Bali tahun 2016 pada 1200 remaja usia 12 – 19 tahun di kota Denpasar, ditemukan bahwa sekitar 73,33% remaja sudah pernah berpacaran (880 dari 1200 remaja), sehingga hanya 26,67% remaja di kota Denpasar yang mengaku belum pernah pacaran. Dari 880 responden yang pernah pacaran  88,07% pernah bergandengan tangan, 67,95% pernah berpelukan, 58,30% pernah mencium pipi, 35,57% pernah berciuman bibir, dan 19,20%  pernah meraba badan. Cukup tingginya jumlah remaja yang pernah pacaran menunjukkan bahwa remaja kini lebih dekat dengan risiko – risiko terkait dengan kehamilan tidak diinginkan, hubungan seksual pranikah, dan lainnya. Dalam Journal of Pain, peneliti dari Universite de Montreal, University Hospital Center dan Mc Gill University menemukan bahwa anak remaja yang mulai pacaran sejak usia dini lebih banyak mengalami sakit kepala. Mereka lebih banyak depresi dibanding rekan seusianya yang belum pernah pacaran. Terjadinya kekerasan dalam berpacaran yang disebabkan oleh kurang matangnya emosi remaja. Berdasarkan temuan American Psychological Association terdapat 1 diantara 3 orang remaja mengalami kekerasan dalam berpacaran. Kemudian apakah itu artinya remaja tidak boleh pacaran?

Untuk melindungi remaja dari dampak buruk pacaran pada usia dini, para orangtua, guru, pendidik formal maupun non formal, seringkali menghimbau anak atau peserta didik mereka untuk tidak pacaran sebelum menyelesaikan sekolah. Hal tersebut menjadi dilematis bagi remaja, saat mereka melihat mesranya gaya pacaran anak sekolah di televisi, media sosial, majalah, dan lainnya. Kemudian kecenderungan hal yang ditiru remaja pada akhirnya adalah perilaku yang dilakukan oleh teman sebayanya atau dipertunjukkan dari media publik, dibandingkan dengan nasehat dari orang tua. Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya dampak buruk dari pacaran usia dini? terapkan gaya pacaran sehat dan ketahui risiko dari pacaran usia dini.

Untuk para orang tua dan guru sebaiknya bukalah ruang diskusi dengan pemikiran yang terbuka bagi remaja terkait dengan pacaran. Ajaklah remaja untuk berpikir mengenai risiko yang dihadapi apabila memutuskan untuk pacaran pada usia remaja, sehingga remaja juga belajar bagaimana untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua hubungan pacaran pada usia remaja akan mendatangkan dampak buruk, pacaran dengan gaya pacaran sehat, dimana satu sama lainnya saling mendukung, membangun relasi yang positif dan mendatangkan hal yang lebih baik untuk satu sama lainnya juga harus menjadi bahan diskusi sehingga remaja memiliki referensi positif mengenai makna dari pacaran itu sendiri.

(KISARA PKBI Bali, 2016)

Editor : Ni Luh Eka Purni Astiti

Pin It

Leave a Reply