Pelecehan Seksual pada Anak

index

Minggu-minggu ini marak dikabarkan terkait terjadinya pelecehan seksual bahkan yang mengarah pada kekerasan di tanah air kita. Yang lebih menyedihkan, hal mengerikan ini terjadi pada generasi penerus bangsa yaitu anak-anak. Lalu, sebenarnya apa itu pelecehan seksual dan mengapa hal ini bisa terus terjadi bagai spora jamur? Berikut kita ulas bersama

Pelecehan seksual pada anak yaitu aktivitas atau kontak seksual yang melibatkan anak (remaja) dengan orang dewasa atau dengan anak (remaja) lain yang tidak diinginkan oleh seseorang tersebut, dalam hal ini si anak (remaja) yang menjadi korban baik secara verbal maupun fisik yang merujuk pada seks sehingga menyebabkan keadaan yang tidak nyaman bagi korban. Jadi, pelaku pelecehan seksual bisa jadi orang yang sudah dewasa atau anak(remaja). Anak sendiri, menurut definisi UU No. 23 Tahun 2002 adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun , termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Sedangkan kekerasan seksual yaitu kekerasan (tindakan mengancam atau menakut-nakuti) yang terjadi karena persoalan seksualitas baik berupa perbuatan maupun perkataan. Ibarat awan dan hujan, demikianlah hubungan antar seks dan kekerasan. Di mana terdapat seks maka kekerasan hampir selalu terjadi. Termasuk dalam kekerasan seksual adalah perkosaan, pelecehan seksual (penghinaan dan perendahan terhadap lawan jenis), penjualan anak perempuan untuk prostitusi, dan kekerasan oleh pasangan.

Suatu tinjauan baru-baru ini terhadap 17 studi dari seluruh dunia menunjukkan bahwa di manapun, sekitar 11% sampai dengan 32% perempuan dilaporkan mendapat perlakuan atau mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanaknya. Umumnya pelaku kekerasan adalah orang-orang terdekat seperti anggota keluarga, kerabat, tetangga, guru atau teman. Cara-cara yang dilakukan untuk mendekati sang korban biasanya dengan tipuan seperti mengiming-iming dengan janji memberi hal yang disukai sang anak, contoh permen. Mereka yang menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak biasanya adalah korban kekerasan seksual pada masa kanak-kanak.

Adapun penyebab terjadinya pelecehan seksual sangatlah beragam mulai dari cara berpakaian yang terbuka sehingga mengundang perhatian, dan bisa juga akibat terlalu mudah percaya terhadap orang yang baru dikenal. Kerabat terdekat yang sudah dikenal lama saja berpotensi menjadi pelaku pelecehan seksual, terlebih lagi orang yang baru dikenal. Jadi para generasi muda harus lebih waspada ya. Ingat waspada ya teman-teman bukan ketakutan terhadap orang, jika ketakutan nanti malah sulit bergaul jadinya.

Bentuk-bentuk Pelecehan Seksual pada anak ada 2 bentuk yaitu berupa sentuhan dan tanpa sentuhan. Berikut contoh perbuatan dari masing-masing bentuk pelecehan seksual:

  1. Pelecehan Seksual yang Berupa Sentuhan
  2. Pelaku memegang-megang, meraba atau mengelus organ vital anak seperti alat kelamin (vagina, penis), bagian pantat, dada atau payudara.
  3. Pelaku memasukkan bagian tubuhnya atau benda lain ke mulut , anus, atau vagina anak
  4. Pelaku memaksa anak untuk memegang bagian tubuhnya sendiri, bagian tubuh pelaku, atau bagian tubuh anak lain.
  5. Pelecehan Seksual yang Tidak Berupa Sentuhan
  6. Pelaku mempertunjukkan bagian tubuhnya (termasuk alat kelamin) pada anak/remaja secara cabul,tidak pantas, atau tidak senonoh
  7. Pelaku mengambil gambar (memfoto) atau mereka anak remaja dalam aktivitas yang tidak senonoh,dalam adegan seksual yang jelas nyata, maupun adegan yang secara tersamar memancing pemikiran seksual. Contohnya, pelaku mereka anak yang sedang berganti pakaian
  8. Kepada anak, pelaku memperdengarkan atau memperlihatkan visualisasi berupa gambar,video dan semacamnya yang memuat terkait seks dan pornografi seperti mengajak menonton film/video porno
  9. Pelaku tidak menghargai privasi anak/remaja, misalnya tidak menyingkir dan justru menonton ketika si anak andi atau berganti pakaian
  10. Pelaku melakukan percakapan tentang seksual dengan anak/remaja, baik secara langsung maupun tersembunyi baik melalui telepon, chatting,intenet,surat maupun sms.

( Dikutip dari Info Psikologi)

Kedua jenis kontak seksual ini bisa mengganggu kondisi fisik dan kondisi psikis anak. Kerusakan mental yang timbul biasanya berupa rasa malu, rasa tak berdaya, rasa tidak aman, dan rasa tersakiti. Dampak dari pelecehan seksual juga dapat dikelompokkan berdasarkan jangka waktunya, dimana pada jangkan pendek korban pelecehan seksual akan memperlihatkan reaksi psikologis seperti ketakutan dicampur kemarahan, ada pula yang menunjukkan sikap bermusuhan akibat dendam terhadap pelaku, kemudian merasa malu dan bersalah karena berpikir harga dirinya rendah sehingga menjadi kurang percaya diri. Sedangkan dampak jangka panjangnya, korban cenderung akan mengalami depresi, gangguan prilaku dan pribadi yang berat, bahkan ada kemungkinan mereka (korban) akan mengulangi tindak kejahatan yang serupa kedepannya atau balas dendam.

Menurut Mulyadi, para korban kerap masih merasa dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa rendah diri, dan trauma akibat eksploitasi seksual meski mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Bahkan eksploitasi seksual yang dialami semasa masih anak-anak banyak menjadi pemicu penyebab keterlibatan dalam prostitusi. Jika kekerasan seksual terjadi pada anak yang masih kecil, contoh pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll.

Beberapa indikator yang biasanya muncul pada korban pelecehan seksual diantaranya:

  1. Perubahan prilaku dan sikap dari anak
  2. Pengetahuan seks yang spontan berkembang
  3. Reaksi yang kuat terhadap kontak fisik, bisa jadi menjadi pemalu atau malah menjadi agresif.
  4. Penurunan konsentrasi

Namun tidak semua anak yang memperlihatkan sikap-sikap diatas sudah pasti korban pelecehan seksual, jadi harus ditelusuri lebih lanjut.

Banyak diantara korban kekerasan seksual pada anak awalnya tidak mengerti bahwa dirinya telah mengalami pelecehan seksual. Untuk itu, langkah pertama menghindarkan anak dari ancaman ini adalah dengan memberikan penjelasan yang sederhana tapi jelas mengenai pengertian pelecehan/kekerasan seksual pada anak dan bentuk-bentuk dari kekerasan/pelecehan seksual itu. Hal ini penting agar anak bisa menghindar sebelum terjadi dan bisa segera meminta petolongan jika pelecehan telah terjadi. Dan dalam penyampaian haruslah sangat berhati-hati dalam memilih kata-kata dan waktu penyampaian juga harus tepat, jangan sampai menimbulkan ketakutan yang berlebih pada anak.

Dan pastinya banyak orang tua yang khawatir tentang cara melindungi si buah hati agar terhindar dari kejahatan seksual tersebut, dan tentunya kita para remaja ingin tahu cara menghindari tindak kejahatan ini. Berikut ini tips-tips sederhananya:

  1. Harus Berani dan Terbuka

Ajarkan anak untuk bersikap berani terutama terhadap hal-hal yang tidak adil dan tidak nyaman baginya. Contoh jika dia diperlakukan tidak baik sama seseorang, dia harus berani menolak. Lalu latih agar anak bersikap terbuka atau orang tua harus melakukan pendekatan agar anak mau berbagi cerita terutama jika dia mendapat ancaman. Ajarkan anak-anak jangan takut jika diancam seseorang atau diiming-imingi imbalan tertentu.

  1. Terapkan Cara Berpakaian yang sopan

Pakaian yang terbuka dan ketat sangatlah rawan mengundang tindak kejahatan seksual, oleh sebab itu sejak kecil anak haruslah dilatih berpakaian yang sopan untuk menghindari tindakan yang tidak diinginkan terjadi pada anak kita. Sedangkan orang tua juga harus memberi contoh pada anak dengan berpakaian yang sopan pula.

  1. Kenali Organ Intim

Pendidikan seks sejak dini memanglah penting, namun masih dianggap tabu oleh kebanyakan orang. Dengan pendidikan seks, anak akan dikenali mengenai organ reproduksi mereka dan bagian-bagian pribadi yang tidak boleh di sentuh orang. Sehingga anak-anak diharapkan lebih mengerti dan cepat sadar bila ada prilaku pelecehan yang terjadi pada dirinya. Namun tentunya pendidikan seks haruslah diberikan sesuai dengan usia penerima informasi.

  1. 4. Perhatikan Lingkungan Anak

Wajib hukumnya bagi orang tua untuk melakukan hal ini, meski memberikan kepercayaan penuh terhadap anak bukan berarti orang tua lantas lepas tangan dan kurang memperhatikan pergaulan anaknya. Anak haruslah berada di lingkungan yang nyaman dan aman untuk perkembangannya, karena itu perhatikan lingkungan anak mulai dari hal terkecil seperti siapa temannya, gurunya, wali kelasnya, pelajaran favoritnya. Tidak hanya sampai disitu, orang tua kemudian harus memperdalam informasi terkait lingkungan anak tapi jangan sampai menyebabkan tekanan pada anak seperti mewawancarai anak secara paksa.

  1. Selalu Waspada

Waspada artinya berhati-hati atau berjaga agar anak tidak menjadi korban pelecehan seksual, namun waspada bukan berarti ketakutan yang dapat memicu sikap overprotectif (rasa peduli yang berlebihan) terhadap anak. Karena anak cenderung akan menghindar apabila berada dalam posisi demikian. Bersikap waspadalah terhadap prilaku-prilaku orang sekitar bahkan keluarga maupun kerabat dekat seperti tetangga sekalipun. Dan juga orang-orang yang anda percayai dalam menjaga anak seperti guru di sekolah patut diwaspadai juga, sebab seperti kebanyak kasus justru guru menjadi pelaku kejahatan ini.

Demikian tips singkat mencegah pelecehan seksual pada anak dari kami. Semoga bermanfaat.

editor: Jeje

ilustrasi: google.com

Pin It

Leave a Reply