Pacaran Itu Memotivasi, Bukan Menyakiti!

Photo by Alex Iby on Unsplash

Menjalin sebuah hubungan itu membutuhkan kesiapan mental untuk meyakinan saat memantapkan hati. Sebab, dalam perjalanannya nanti, setiap pasangan pasti akan menemui kerikil dan lika-liku jalan yang tidak selalu mulus dan tak jarang terjal yang dapat membuat goyah sebuah hubungan. Jika kita tidak mempersiapkan hati sebelumnya dan hanya menjalani saja semua itu dapat berubah menjadi sebuah hubungan jadi tidak sehat. Pacaran sehat sebutan untuk menggambarkan hubungan yang saling menghargai antara satu sama lain dimana keadan fisik, mental, dan sosial dua remaja yang pacaran dalam keadaan yang baik.

Sebagian remaja pada saat beranajak dewasa pasti berpikir apa itu “cinta”. Cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Jatuh cinta terhadap lawan jenis merupakan salah satu hal yang wajar, dikarenakan remaja sudah mulai mempunyai ketertarikan terhadap lawan jenis. Robert J. Sternberg mengemukakan teori triangular theory of love yang menyatakan bahwa terdapat tiga komponen dalam cinta, yaitu intimacy (keintiman), passion (gairah), dan komitmen. 

Sebelum memulai suatu hubungan ataupun komitmen dalam pacaran harus mengetahui apa saja dampak negatif atau konsekuensi yang akan terjadi, seperti emosi yang mengakibatkan Kekerasan Dalam Pacaran (KDP), terjadinya sex bebas atau sex beresiko, terjadinya Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), pernikahan dini, mempunyai penyakit (IMS, HIV, AIDS).

Hal tersebut dapat membuat stress ataupun membuat kita kepikiran. Tetapi jangan khawatir, walaupun konsekuensinya yang akan dihadapi sangat besar, pacaran itu tidak semua berdampak negatif. Ada dampak positif dari pacaran, seperti dapat mengenali diri sendiri dengan baik, mempunyai tempat curhat yang dapat dipercaya, serta mempunyai teman berbagi dan bertukar pikiran.

 

Nurani Aprilia

Relawan Kisara

Pin It

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.