Kesetaraan di Dalam Keluarga

Photo by geralt on Pixabay

Sahabat KISARA, pernahkah kalian mendengar orang lain mengucapkan kalimat “Anak itu kurus banget, apa tidak diurus oleh ibunya?”, “Oh pantes anak itu nakal, ibunya aja sibuk kerja ga ngurusin anaknya”, atau “Ibunya ngapain aja ya sampai kelakuan anaknya kaya gini?” ? Budaya mempersalahkan ibu atau istri di dalam suatu keluarga terjadi dari dahulu hingga sekarang. Jika ditelisik, setiap anak melakukan kesalahan akan dikaitkan dengan pola asuh ibunya atau abainya peran ibu di dalam keluarga.

Salah satu alasan hal tersebut terjadi karena adanya stereotipe masyarakat bahwa tugas ibu atau istri adalah mengurus dapur dan anak. Sedangkan, bapak atau suami bertugas untuk bekerja mencari nafkah. Padahal, tugas merawat dan mendidik anak tidak hanya menjadi tugas seorang ibu atau istri saja. Peran ayah sangat dibutuhkan dalam perkembangan anak. Dalam konsep modern, seorang ayah  turut memberikan kontribusi penting bagi perkembangan anak, pengalaman yang dialami bersama dengan ayah, akan mempengaruhi seorang anak hingga dewasa nantinya. Peran serta perilaku pengasuhan ayah mempengaruhi perkembangan serta kesejahteraan anak dan masa transisi menuju remaja (Cabrera,dkk,2000). Perkembangan kognitif, kompetensi sosial dari anak-anak sejak dini dipengaruhi oleh kelekatan, hubungan emosional serta ketersediaan sumber daya yang diberikan oleh ayah (Hernandez & Brown, 2002). Dengan menyalahkan ibu atau istri terus-menerus akan menyebabkan ibu hidup dengan berbagai beban.

Contoh lain kasus yang menyalahkan istri di dalam suatu keluarga ialah jika dihadapkan dengan kasus Sang Suami yang berselingkuh. Stereotipe yang terjadi di dalam masyarakat ialah menoleransi tindakan suami dengan menyalahkan Sang Istri. Misalnya dengan kalimat “Ohh pantes ya suaminya selingkuh, istrinya ga mampu bikin dia betah di rumah”. Berbeda dengan Sang Istri jika melakukan hal yang sama maka akan dianggap sebagai istri yang tidak baik dan dicap perempuan murahan.

Hal yang perlu ditanyakan kembali ialah bagaimana menempatkan kesetaraan baik antara suami dan istri ataupun perempuan dan laki-laki di dalam suatu keluarga. Dengan kesetaraan, istri yang memiliki beban ganda juga bisa merasa setara dengan suaminya sehingga keluarga akan lebih harmonis. Kesetaraan dalam ranah keluarga ini juga merupakan bagian yang terkecil. Diharapkan dari bagian terkecil ini akan berdampak luas di masyarakat. Selamat Hari Kartini

Bulan

Relawan KISARA

Catatan kaki:

Jurnal Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak. 2011. Farida Hidayati, Dian Veronika Sakti Kaloeti, Karyono Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro

Pin It

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.