KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN (KTD) PADA REMAJA

Eka Purni

Relawan Kisara PKBI Bali

KTD (1)

KTD atau kehamilan tidak diinginkan merupakan kehamilan saat dimana salah satu atau kedua belah pihak dari pasangan tidak menginginkan terjadinya kehamilan sama sekali atau kehamilan yang sebenarnya diinginkan tapi tidak pada saat itu. KTD sebenarnya dapat pula terjadi pada pasangan yang telah menikah karena pasangan tersebut belum merencanakan kehamilan. Namun, kasus KTD yang kini menjadi sorotan publik dan menjadi perhatian yaitu kasus KTD yang terjadi pada remaja.

Penyebab terjadinya KTD

  • Pemerkosaan
  • Seks bebas atau seks pranikah
  • Kegagalam memakai alat kontrasepsi
  • Kepercayaan terhadap mitos – mitos seperti berhubungan seksual sekali tidak akan menyebabkan kehamilan, minum alkohol dan lompat-lompat pasca berhubungan seksual dapat menyebabkan sperma tumpah kembali sehingga tidak akan menyebabkan kehamilan.
  • Pengaruh lingkungan.

Mengapa Remaja yang paling berisiko ?

Masa remaja merupakan periode transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial. Pola tingkah laku remaja dipengaruhi oleh pertumbuhan sosial dan pola kehidupan masyarakat yang nantinya menentukan kehidupan pribadi remaja. Beberapa karakteristik remaja yang berpotensi menyebabkan terjadinya KTD:

  1. Masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri, sehingga pengaruh lingkungan yang tidak baik dan kurangnya informasi yang benar menyebabkan permasalahan termasuk KTD.
  2. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok
  3. Senang berksperimentasi
  4. Ketidakstabilan emosi
  5. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua
  6. Kegelisahan karena banyak hal yang diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya
  7. Senang bereksplorasi

Dampak KTD pada remaja

  1. Tekanan psikologis (sanksi sosial)
  2. Putus sekolah
  3. Keretanan terjadinya gangguan pada kesehatan organ reproduksi
  4. Perasaan malu
  5. Sensitif atau mudah marah
  6. Peningkatan kasus aborsi

Bagaimana cara mencegahnya ?

  1. Peran orang tua
  • Menanamkan pola asuh yang baik pada anak sejak dini
  • Membekali anak dengan dasar moral dan agama
  • Berkomunikasi yang baik dan efektif antara orangtua dan anak
  • Menjadi tokoh panutan bagi anak
  1. Peran pendidik/guru
  • Memberikan informasi yang benar bagi siswanya terkait masalah yang rentan dihadapi remaja
  • Memberikan keleluasaan siswa untuk mengekspresikan diri pada kegiatan ekstrakulikuler
  • Menciptakan kondisi sekolah yang nyaman dan aman bagi siswa
  • Bersahabat dengan siswa
  • Meningkatkan deteksi dini terjadinya perilaku yang menyimpang pada remaja
  1. Peran media
  • Sajikan tayangan yang mendidik bukan menjerumuskan
  • Tidak menayangkan sinetron atau film yang cenderung memprovokasi remaja untuk melakukan tindakan menyimpang termasuk seks bebas
  • Bertanggung jawab menyajikan tayangan yang layak untuk ditonton bagi remaja
  • Adanya rubric khusus dalam media masa (cetak, elektronik) yang bebas biaya khusus untuk remaja
  1. Peran remaja itu sendiri
  • Ikuti kegiatan – kegiatan yang positif
  • Perbanyak informasi yang penting dan berguna untuk pengembangan diri
  • Lebih berhati – hati dalam menyerap informasi dari sumber yang tidak jelas
  • Hati – hati dalam bergaul dan memilih teman, karena bisa jadi teman dekat yang dapat menjerumuskan untuk melakukan seks bebas sehingga berujung pada KTD

Bagaimana bila sudah terjadi KTD ?

  • Sebaiknya beritahu kehamilan yang terjadi pada orang yang dipercaya, terutama keluarga (orang tua) kedua belah pihak.
  • Tetap mempertahankan kehamilan

Perlu dipikirkan apakah aka menikah, membesarkan anak seorang diri, ataupun memberikan anak tersebut untuk diadopsi (biasanya hal ini berlaku untuk kasus khusus seperti pemerkosaan dan kekerasan). Jika dirawat sendiri maka remaja harus siap secara ekonomi, psikis, dan sosial

  • Tidak meneruskan kehamilan

Perlu dipertimbangkan risiko yang terjadi, kemungkinan timbulnya penyesalan dan perasaan bersalah, kemungkinan terjadinya infeksi yang dapat mengakibatkan peradangan dan risiko kemungkinan terjadinya mandul. Maka, carilah informasi yang benar agar tahu untuk mencari pertolongan yang tepat dan aman.

Bagi mereka yang mengalami KTD, dukungan lingkungan sangat diperlukan. Kepedulian, perhatian serta pengertian sangat dibutuhkan khususnya bagi remaja. Jangan sampai pihak yang seharusnya mendampingi terutama orang tua malah menyalahkan dan akan membuat remaja semakin merasa bersalah dan terperosok. Sekarang bukan bagaimana mencari siapa yang bersalah tapi bagaimana mencari pemecahan maslah bersama.

Bagi para remaja, mulailah untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri karena masa depan berada di tangan remaja itu sendiri. Hargailah dirimu sendiri dan mulai belajar untuk mempertimbangkan segala tindakan dengan masak – masak dan jangan menutup diri terhadap nasehat atau masukan positif dari lingkungan sekitar.

Pin It

Leave a Reply