Arti Perawan Seorang Perempuan, Mitos atau Fakta ?

foto artikel perawan

Hani 

Relawan KISARA PKBI Daerah Bali

Di Indonesia, keperawanan merupakan sebuah hal sakral dan masih banyak yang menganggap bahwa nilai seorang perempuan dinilai dari keberadaan selaput daranya. Padahal sebenarnya, kondisi dari selaput dara seorang perempuan tidak dapat memberikan kesimpulan apapun; apakah perempuan tersebut merupakan perempuan baik-baik atau perempuan “nakal”. Karena kondisi tiap orang berbeda-beda. Sebenarnya, apa sih selaput dara itu? Selaput dara atau yang dalam bahasa ilmiahnya disebut hymen adalah lapisan kulit yang tipis, sangat tipis bahkan, yang menutupi sebagian atau seluruh mulut vagina. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, bentuk selaput dara pada umumnya adalah bulan sabit.

Dalam bukunya yang berjudul Perempuan dalam Budaya Patriarki, Nawal El Saadawi mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara aturan biologis dan anatomis manusia dengan nilai-nilai moralnya. Karena nilai moral adalah produk sistem sosial, sedangkan setiap organ tubuh manusia, termasuk selaput daranya adalah ciptaan Tuhan dan semesta dengan bentuk yang beraneka ragam. Jika dilihat dari penjelasan medis, tidak semua bayi perempuan lahir dengan selaput dara, lho. Oleh karena itu, kurang tepat jika dikatakan bahwa selaput dara seorang perempuan dikaitkan dengan keperawanan. Bagaimana dengan perempuan yang lahir tanpa selaput dara? Apakah mereka dikatakan sudah tidak perawan?

Pecahnya selaput dara seorang perempuan juga bisa disebabkan oleh kecelakaan atau olahraga. Meskipun selaput dara bertekstur elastis, membran tipis tersebut juga bisa pecah. Pada anak-anak dan remaja, selaput dara yang robek bisa pulih kembali namun pada orang dewasa, kondisi dan bentuknya bervariasi.

Lalu, apa hubungan selaput dara dan keperawanan? Keperawanan seringkali diidentikkan dengan dengan keberadaan selaput dara. Selaput dara yang robet diartikan sebagai tanda bahwa perempuan tersebut sudah tidak perawan. Padahal, robeknya selaput dara seorang perempuan tidak hanya disebabkan oleh penetrasi penis ke vagina, melainkan bisa karena olahraga berat, kecelakaan, atau karena perempuan tersebut memang terlahir tanpa selaput dara.

Tidak semua perempuan mengetahui apakah selaput daranya robek saat beraktivitas karena banyak kasus dimana robeknya selaput dara tidak menyebabkan rasa sakit atau nyeri, bahkan pendarahan. Saat berhubungan seksual pun, hanya sekitar empat puluh sekian persen kasus yang dilaporkan bahwa terjadi pendarahan sebagai tanda robeknya selaput dara. Jika masih ada yang percaya bahwa, “Jika tidak terjadi pendarahan saat melakukan hubungan seksual untuk pertama kali, maka perempuan itu sudah tidak perawan.” maka hal ini harus diluruskan kembali KARENA tidak semua perempuan yang melakukan aktivitas seksual untuk pertama kalinya mengalami pendarahan. Sayang sekali mitos seperti ini masih beredar dengan sangat luas di masyarakat.

Sampai saat ini, tujuan dari dilakukannya tes keperawanan bagi perempuan yang ingin berkarir di Polri atau TNI kerap dipertanyakan. Beberapa waktu lalu sempat heboh di media mengenai hal ini dan aktivis Hak Asasi Manusia memberikan komentar bahwa hal ini termasuk pelanggaran HAM. Apakah keperawanan seorang perempuan adalah suatu nilai mutlak yang mempengaruhi kemampuannya dalam berkarir? Hal ini tentu saja mendeskriminasi perempuan. Bagaimana dengan perempuan yang pernah mengalami pelecehan seksual yang ingin berkarir namun terhalang oleh robeknya selaput dara meskipun ia sangat berkompeten?

Stigma masyarakat yang mengatakan bahwa kesucian dinilai dari belum robeknya selaput dara membuat banyak perempuan merasa rendah diri. Merasa bahwa selaput dara adalah segalanya dan tanpa hal tersebut, masa depannya tidak bahagia. Mitos mengenai keperawanan dan selaput dara ini tak ayal memunculkan praktik-praktik operasi untuk mengembalikan kembali selaput dara yang telah robek. Lagi-lagi, tubuh perempuan dijadikan sebagai objek bisnis.

Kesimpulannya, keperawanan tidak ada sangkut pautnya dengan kondisi selaput dara. Robek atau tidaknya selaput dara tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan keperawanan seorang perempuan. Stigma masyarakat yang sudah meluas mengenai hubungan keperawanan dan selaput dara, serta diskriminasi pada perempuan yang “dikatakan” sudah tidak perawan, dapat ditanggulangi dengan cara pemberian informasi mengenai organ reproduksi dan kesehatan seksual yang benar kepada anak-anak dan remaja. Dengan adanya informasi terhadap hal seperti ini, remaja bisa lebih menjaga dan menghargai tubuhnya serta agar dapat bertanggung jawab dengan aktivitas seksualnya.

Pin It

Leave a Reply