Pelatihan Pemetaan Remaja Risiko Tinggi | Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN)

Bandung – Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan AIDS 2010-2014 dikembangkan berdasarkan arahan kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014 yang mengemukakan upaya pencegahan sebagai salah satu strategi utama dalam penanggulangan penyakit menular ini. Dari serangkaian upaya pencegahan, pencegahan primer pada kelompok muda usia 15-24 tahun merupakan pilihan yang paling strategis dalam rangka mengupayakan sesedikit mungkin remaja mulai berperilaku berisiko. Berdasarkan hasil analisa situasi dan respon penanggulangan AIDS pada remaja, didapatkan bahwa belum ada pemetaan remaja risiko tinggi yang khusus pada usia 15-24 tahun dan mendapatkan program penanggulangan AIDS yang comprehensive dan ramah remaja.

Dalam rangka pengembangan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS pada Penduduk Muda 15-24 tahun (RAN Remaja) yang merupakan dokumen untuk melengkapi Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS Tahun 2010-2014, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) melaksanakan pelatihan pemetaan remaja risiko tinggi untuk melengkapi kekhususan data fisik dan geografis populasi kunci remaja yang akan dijadikan bahan awal untuk perencanaan program remaja risiko tinggi  di Indonesia. Tujuan dilaksanakan pelatihan ini adalah meningkatkan kapasitas pelaksana program dalam melakukan pemetaan remaja risiko tinggi dan memanfaatkan hasil pemetaan untuk perencanaan dan implementasi program remaja risiko tinggi serta merencanakan tindak lanjut pemetaan remaja risiko tinggi di daerah masing-masing.

Pelatihan ini dilaksanakan di Kota Bandung, Jawa Barat pada 27 – 29 Maret 2012. Peserta dari pelatihan ini adalah satu orang perwakilan dari Pengelola Monev KPA Provinsi dan satu orang perwakilan Youth Center PKBI dari delapan provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Selain itu, dalam pelatihan ini juga hadir perwakilan Konsultan Komunikasi Remaja dan Aliansi Remaja Independen (ARI) serta LSM yang mendampingi remaja berisiko di Kota Bandung yaitu Klinik Mawar, Rumah Cemara, Yayasan Abiasa dan Yayasan Srikandi Pasundan.

Pelatihan ini diisi dengan berbagai kegiatan seperti sharing pengalaman, pemberian materi terkait pemetaan remaja risiko tinggi, diskusi membahas pedoman pemetaan yang sudah disiapkan oleh KPAN, Praktek Lapangan melakukan pemetaan di lokasi yang menjadi tempat remaja berisiko berkumpul di Kota Bandung, presentasi hasil praktek lapangan serta merencanakan rencana tindak lanjut pemetaan di provinsi masing-masing.

Materi mengenai pemetaan remaja risiko tinggi difasilitasi oleh Bapak Ignatius atau yang akrab disapa Pak Gambit, pada sesi ini dijelaskan mengenai bagaimana tahap-tahap melakukan pemetaan kepada kelompok remaja risiko tinggi, metode yang digunakan dalam pemetaan serta pengumpulan data sampai penulisan laporan. Dalam pelatihan ini yang menjadi kelompok remaja risiko tinggi adalah remaja WPS (Wanita Pekerja Seks), Remaja Penasun (Pengguna Narkoba Suntik), Remaja Waria/Transgender dan Remaja LSL (Lelaki yang berhubungan Seks dengan Lelaki lainnya).

Di akhir kegiatan masing-masing provinsi diberikan tugas untuk melakukan pemetaan remaja risiko tinggi di satu Lokasi yang menjadi tempat berkumpulnya remaja risiko tinggi.

(CHAKI/KISARA)

Pin It

Leave a Reply